Bukittinggi, Tanah Kelahiran Sang Proklamator

Ketika mendengar nama Bukittinggi, yang terlintas dalam benak adalah Jam Gadang, makanan enak, Lobang Jepang, Ngarai Sianok, Janjang 40, bendi, dll. Begitu banyak tempat wisata, tempat makan maupun tempat bersejarah disana yang sangat menarik untuk dikunjungi dan dinikmati.

Jam Gadang
Jam Gadang dipadati oleh wisatawan baik di hari libur maupun hari biasa
Ngarai Sianok
Ngarai Sianok dipagari oleh Gunuang Marapi

Tapi ada satu tempat bersejarah yang sering dilupakan oleh traveller ataupun wisatawan yang berkunjung disana. Di Bukittinggi kita bisa mengunjungi rumah kelahiran salah satu proklamator, yaitu Bung Hatta.

Terletak di Jl. Soekarno Hatta no 37, Rumah kelahiran Bung Hatta ini sudah dijadikan museum oleh Pemerintah Kodya Bukittinggi dan dibuka untuk umum dari Senin – Minggu mulai dari jam 08.00 WIB. Tidak susah untuk menemukannya karena terletak di salah satu jalan utama kota Bukittinggi.

apa saja yang bisa kita lihat disini? mari kita masuk ke dalam rumahnya..:)

RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA

Continue reading “Bukittinggi, Tanah Kelahiran Sang Proklamator”

Bundaran HI, Jakarta

IMG_4794
Bundaran HI, Salah Satu Landmark Kota Jakarta

Salah satu landmark di ibukota yang sangat dikenal dan sering masuk ke dalam berita, selain Monas, adalah Bundaran HI. Bundaran ini sering dijadikan tempat untuk demo, tempat bersantai dan tempat bercengkrama warga Jakarta. Bundaran HI adalah salah satu landmark yang menarik dari Kota Jakarta yang ceritanya tidak akan pernah habis dari waktu ke waktu dan dari sudut ke sudut.

Continue reading “Bundaran HI, Jakarta”

Pacu Jawi, Cipratan Lumpur Dalam Tradisi

Sang joki memegang ekor kedua sapi untuk mengendalikan mereka di lintasan yang berlumpur
Sang joki memegang ekor kedua sapi untuk mengendalikan mereka di lintasan yang berlumpur

Ketika matahari berada di titik tertinggi, terdengar  kecipak air berlumpur dan teriakan joki yang memacu sapi tunggangannya agar berlari dengan kencang dan lurus sampai ke garis finish. Ya, siang itu sekitar jam duabelas helat pacu jawi di Turawan baru saja dimulai. Turawan merupakan salah satu nama daerah  di Nagari Tigo Koto, Kecamatan Rambatan, yang secara geografis masuk kedalam daerah Kabupaten Tanah Datar.  Helat anak nagari ini lazim diadakan setelah musim panen selesai dilakukan.

Continue reading “Pacu Jawi, Cipratan Lumpur Dalam Tradisi”

Oro-Oro Ombo, Padang Ungu Yang Menyimpan Kejutan

Bunga berwarna ungu yang terlihat indah. Verbena Brasiliensis Vell.
Bunga berwarna ungu yang terlihat indah, Verbena Brasiliensis Vell.

Matahari bersinar cukup terik pagi itu. Setelah badan cukup hangat dan puas berkeliling di sekitar Ranu Kumbolo, saya memutuskan untuk menyambangi Oro-Oro Ombo. Jaraknya dari Ranu Kumbolo tidaklah jauh, hanya dipisahkan oleh tanjakan yang entah kenapa dinamakan  Tanjakan Cinta (jadi keinget tanjakan di kampus dulu yang dinamakan sama, tetapi bedanya kalo yang di kampus konon katanya bisa membuat cinta bersemi antar dua anak manusia, sementara disini malah bisa memutuskan hubungan..hehehe). 

Continue reading “Oro-Oro Ombo, Padang Ungu Yang Menyimpan Kejutan”

Ranu Kumbolo, Menikmati Hari

Mentari Pagi
Mentari Pagi

Ketika mentari mulai muncul dari balik bukit di seberang danau, walau dingin terasa membekukan ruas-ruas jari tetapi saya memilih keluar tenda dan mengacuhkan dingin yang membungkus pagi. Tidak setiap saat mata ini disuguhkan keindahan yang mungkin hanya bisa dinikmati di alam mimpi. Terlalu berlebihan? ah tidak menurut saya.

Continue reading “Ranu Kumbolo, Menikmati Hari”

Merindu Ijen

Terus melangkah
Terus melangkah

Beberapa tahun yang lalu akhirnya kesempatan menyambangi Kawah Ijen bisa kesampaian. Sebuah tempat yang indah dan juga memberi banyak pelajaran dalam hidup. Melihat orang-orang memikul belerang seberat kurang lebih 70 kilogram di jalan yang curam dan berliku demi mendapatkan penghasilan penyambung hidup. Walaupun berat, tetapi senyum ramah tetap tersungging di balik bibir mereka dan terkadang memperlihatkan gigi-gigi yang mulai keropos karena belerang.

Continue reading “Merindu Ijen”

Ranu Kumbolo, Pagi Selimut Kabut

Semarak tenda ditengah selimut kabut pagi
Semarak tenda ditengah selimut kabut pagi

Terhempas dalam guncangan mobil di jalan yang tak rata ditengah  kegelapan nyaris sempurna dipadukan  dengan mata yang susah diajak kompromi untuk melek merupakan sebuah ujian yang harus dilalui. Saya harus tetap terbangun dan menemani supir yang sudah mulai mengantuk karena menyetir tanpa henti dari selepas malam. Ketika melihat jam tangan sudah menunjukkan sekitar pukul tiga subuh, jalanan yang dilalui semakin menantang. Tanjakan yang terkadang diselingi dengan tanjakan yang cukup tajam serta jalanan berlubang karena tergerus air hujan. Ah tapi untung supirnya sudah cukup mengenal medan karena pernah beberapa kali mengantar tamu kesini. Lucky us…:)

Continue reading “Ranu Kumbolo, Pagi Selimut Kabut”